Merawat Warisan Budaya di Gang Sempit Pontianak: Kiprah Ivan Pengrajin Naga Tradisional
Ruang Luwuk – Merawat Warisan Budaya Di tengah hiruk-pikuk kota Pontianak yang terus berkembang, ada sebuah gang sempit yang menjadi saksi bisu perjuangan seorang pengrajin yang berusaha mempertahankan warisan budaya leluhur. Gang itu terletak di kawasan Pasar Baru, dan di dalamnya, seorang pria bernama Ivan berjuang dengan tangan terampilnya untuk merawat dan melestarikan kerajinan naga tradisional yang sudah hampir terlupakan. Naga tradisional ini bukanlah sekadar hiasan atau patung, melainkan bagian dari kehidupan budaya yang kaya dan penuh makna bagi masyarakat Tionghoa di Pontianak.
Sebagai satu-satunya pengrajin naga tradisional yang masih aktif di Pontianak, bahkan di Kalimantan Barat, Ivan menjadi penanda keberlanjutan tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di ruang sempit berdebu itu, antara tumpukan kertas warna-warni dan kayu, Ivan menciptakan naga-naga indah yang menjadi simbol keberuntungan dan kemakmuran dalam berbagai perayaan, terutama saat Imlek dan Cap Go Meh.
Menghidupkan Tradisi Naga yang Hampir Terlupakan
Tradisi pembuatan naga untuk festival dan upacara adat sudah ada sejak zaman Dinasti Qing dan telah diwariskan secara turun-temurun. Naga yang diproduksi Ivan bukanlah naga yang terbuat dari bahan modern, melainkan naga kertas yang dihias dengan detail yang sangat halus. Setiap naga yang dibuat Ivan memerlukan kerja keras dan waktu yang panjang. Pengerjaan satu naga bisa memakan waktu hingga dua minggu, tergantung pada ukurannya dan tingkat kerumitannya.
Namun, seiring perkembangan zaman, semakin sedikit orang yang tertarik untuk melanjutkan profesi ini. Banyak generasi muda yang lebih memilih pekerjaan modern atau yang lebih menjanjikan secara finansial. Ivan, yang pada awalnya belajar dari ayahnya, merasa panggilan untuk melestarikan kerajinan ini, meskipun tantangan yang dihadapi semakin besar.
“Saya merasa ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal merawat tradisi yang sudah lama ada,” kata Ivan sambil menata potongan-potongan kertas berwarna cerah yang akan digunakan untuk tubuh naga. “Jika bukan kami, siapa lagi yang akan melanjutkan tradisi ini?”
Baca Juga: Flyover Jakarta Dipasangi Bendera Parpol Bentuk Unjuk Gigi yang Cederai Fasilitas Umum
Proses Pembuatan Naga: Dari Kertas hingga Kehidupan
Proses pembuatan naga tradisional dimulai dengan kerangka dari bambu yang dibentuk dengan hati-hati untuk membentuk tubuh naga. Kerangka ini kemudian dilapisi dengan kertas yang dipilih dengan cermat, diwarnai menggunakan cat alami yang didapatkan dari tanah dan tanaman setempat. Detil wajah naga—mulai dari mata yang tajam hingga mulut menganga yang melambangkan kekuatan dan keberanian—dikerjakan dengan penuh kesabaran.
“Setiap naga memiliki karakteristiknya sendiri. Misalnya, naga untuk perayaan Imlek biasanya lebih besar dan lebih berwarna cerah, sementara naga untuk Cap Go Meh sering kali lebih kecil, tetapi memiliki detil lebih halus,” ujar Ivan menjelaskan teknik dan filosofi di balik pembuatan naga.
Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, naga melambangkan kekuatan, keberuntungan, dan kemakmuran. Oleh karena itu, setiap elemen dalam pembuatan naga memiliki makna yang mendalam. Warna merah dan emas yang dominan, misalnya, dipercaya membawa energi positif dan keberuntungan, sementara bentuk tubuh yang melengkung dan berseni tinggi mencerminkan kelenturan dan keseimbangan.
Tantangan Merawat Warisan Budaya
Meski karyanya diakui sebagai warisan budaya yang berharga, Ivan mengaku bahwa tantangan terbesar dalam menjalankan profesinya adalah kurangnya minat dari generasi muda. Dengan semakin sedikitnya pengrajin yang tertarik, kerajinan naga tradisional ini terancam punah. Ivan menambahkan bahwa, di beberapa daerah lain, pembuatan naga sudah beralih ke bentuk yang lebih modern, menggunakan bahan-bahan seperti plastik dan logam yang lebih praktis, namun kurang memiliki nilai budaya yang sama.
“Untuk membuat naga tradisional ini, kita perlu kesabaran dan keahlian yang tidak bisa didapatkan dalam semalam. Itu sebabnya generasi muda banyak yang tidak tertarik. Mereka lebih memilih bekerja di sektor yang lebih praktis,” ujarnya.
Namun, Ivan tidak menyerah begitu saja. Ia terus berusaha mengenalkan kerajinan naga tradisional kepada masyarakat, terutama para pelajar dan mahasiswa. “Kami sering mengadakan workshop dan pelatihan di sekolah-sekolah, supaya mereka tahu bahwa tradisi ini harus dijaga,” kata Ivan, yang aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas budaya di Pontianak.
Kiprah Ivan sebagai Pengrajin dan Budayawan
Selain sebagai pengrajin, Ivan juga berperan aktif dalam memperkenalkan budaya Tionghoa, khususnya tradisi kerajinan naga, kepada dunia luar. Ia sering diundang untuk mewakili Pontianak dalam acara-acara budaya, baik di tingkat nasional maupun internasional, untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana kerajinan naga tradisional masih hidup di tengah masyarakat yang semakin modern.
Puncak dari karyanya selama ini adalah ketika ia berhasil menciptakan sebuah naga raksasa yang ditampilkan dalam perayaan Cap Go Meh di Pontianak. Naga ini bukan hanya meriah, tetapi juga memukau banyak orang karena detail yang sangat mendalam dan sentuhan seni yang penuh filosofi.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kerajinan naga ini bukan hanya untuk perayaan saja, tetapi merupakan bagian penting dari identitas budaya kami,” kata Ivan dengan penuh semangat. “Naga ini adalah bagian dari kekuatan batin kami, bagian dari sejarah dan kebanggaan yang telah ada di sini sejak zaman dahulu.”





