9 Kecamatan di Banjar Kalsel Masih Terendam Banjir, Masa Tanggap Darurat Diperpanjang
Ruang Luwuk – 9 Kecamatan di Banjar yang melanda Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), sejak pertengahan Januari 2026, masih menyisakan duka bagi ribuan warga. Hingga kini, sembilan kecamatan di Banjar masih terendam air setinggi hampir satu meter, memaksa pemerintah daerah untuk memperpanjang masa tanggap darurat bencana. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, kondisi ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga beberapa minggu mendatang.
9 Kecamatan Terdampak Banjir Parah
Kecamatan yang hingga kini masih terendam banjir meliputi Martapura, Karang Intan, Mataraman, Aranio, Simpang Empat, Cintapuri Darussalam, Tunggangri, Banyu Hirang, dan Banyu Asih. Hujan deras yang mengguyur selama beberapa pekan terakhir telah menyebabkan sungai-sungai besar di kawasan ini meluap, dan tak mampu menampung volume air yang datang.
Warga yang tinggal di daerah dataran rendah menjadi yang paling terdampak. Banyak rumah dan fasilitas umum terendam banjir, termasuk rumah ibadah, sekolah, dan puskesmas. Selain itu, kondisi ini juga mengganggu akses jalan dan transportasi, yang membuat banyak penduduk terisolasi.
Baca Juga: Pendidikan WBP Lapas Luwuk Diperkuat Intensif
Tanggap Darurat Diperpanjang Hingga 15 Februari
Melihat kondisi yang belum membaik, Bupati Banjar, H Saidi Mansyur, mengumumkan perpanjangan masa tanggap darurat hingga 15 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah evaluasi dari tim BPBD, yang menyatakan bahwa kondisi banjir masih sangat membahayakan keselamatan warga dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk penanganan dan pemulihan.
“Banjir ini memang sudah berlangsung lebih dari dua minggu, namun masih ada beberapa wilayah yang belum bisa diakses. Kami akan terus memperpanjang masa tanggap darurat hingga kondisi benar-benar aman dan terkendali,” jelas Saidi Mansyur dalam konferensi pers yang digelar di Martapura.
Selain itu, perpanjangan masa tanggap darurat juga bertujuan untuk memberikan bantuan logistik, perawatan medis, dan evakuasi warga yang masih terjebak di rumah mereka. Pemerintah setempat juga berkoordinasi dengan pemerintah provinsi, BNPB, serta pihak terkait untuk mempercepat distribusi bantuan.
Kerugian Ekonomi dan Sosial yang Dihadapi Warga
Banjir kali ini tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga merusak banyak sektor ekonomi. Pertanian menjadi sektor yang paling merasakan dampak. Banyak petani yang terpaksa gagal panen karena sawah mereka terendam air. Tanaman padi yang belum dipanen diperkirakan rusak total akibat terendam banjir dalam waktu yang cukup lama.
Selain itu, ternak yang berada di beberapa wilayah juga banyak yang mati, karena kandang-kandang mereka terendam air dan sulit dijangkau. Hal ini membuat warga yang bergantung pada sektor pertanian dan peternakan harus menghadapi kerugian besar, yang tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga mengganggu ketahanan pangan di daerah tersebut.
“Selain rumah yang rusak, sawah kami juga terendam. Kami sudah tidak bisa berharap lagi untuk panen kali ini. Kami hanya bisa menunggu agar keadaan segera pulih,” ujar Ibrahim, seorang petani asal Kecamatan Karang Intan.
Bantuan dan Akses Kebutuhan Dasar
Untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi warga yang terdampak, pemerintah daerah bekerja sama dengan sejumlah lembaga kemanusiaan dan organisasi non-pemerintah untuk menyalurkan bantuan sembako dan peralatan darurat. Pemerintah juga telah mendirikan tenda pengungsian bagi warga yang rumahnya rusak parah atau terendam banjir.
Tim SAR, bersama dengan pemerintah daerah, juga masih terus melakukan evakuasi warga yang terjebak, terutama di kampung-kampung yang terisolasi akibat rusaknya akses jalan. Namun, medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu membuat proses evakuasi cukup lambat dan penuh tantangan.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar telah mengerahkan petugas medis untuk membantu para pengungsi yang membutuhkan perawatan. Puskesmas terdekat juga melayani korban banjir dengan memberikan layanan medis darurat, seperti penanganan penyakit akibat banjir dan trauma psikologis.
9 Kecamatan di Banjar Tantangan Infrastruktur dan Pemulihan Jangka Panjang
Selain upaya penanganan bencana jangka pendek, pemerintah juga mulai memikirkan langkah-langkah untuk pemulihan jangka panjang. Infrastruktur yang rusak, seperti jalan, jembatan, dan sarana publik yang lain, akan segera diperbaiki. Pemerintah Kabupaten Banjar sudah mengajukan permohonan anggaran kepada pemerintah provinsi dan pusat untuk mendanai proses pemulihan infrastruktur yang rusak parah.
Di sisi lain, pemerintah juga memikirkan strategi mitigasi bencana untuk mengurangi dampak bencana serupa di masa depan. Beberapa langkah seperti perbaikan sistem drainase, penguatan tanggul sungai, dan pembangunan fasilitas tanggap bencana menjadi prioritas ke depan.
Kepala BPBD Kabupaten Banjar, Kurniawan, menyatakan bahwa meskipun kondisi saat ini masih sulit, pemulihan akan segera dimulai dengan langkah-langkah yang terencana. “Kami sudah memulai pemulihan secara bertahap dan memastikan bahwa seluruh warga yang terdampak dapat kembali hidup dengan aman dan nyaman,” jelas Kurniawan.
Dampak Sosial dan Solidaritas Masyarakat
Di tengah bencana, solidaritas masyarakat Banjar terlihat sangat kuat. Warga saling membantu sesama, baik dalam hal evakuasi, pemulihan, maupun pendistribusian bantuan. Banyak organisasi masyarakat, pemuda, dan kelompok relawan yang turun ke lapangan untuk membantu meringankan beban warga yang terdampak.
“Ini ujian bagi kita semua. Namun, saya melihat banyak sekali warga yang saling membantu, bergotong royong untuk memulihkan keadaan. Semangat kebersamaan sangat terasa di tengah bencana ini,” ujar Yani, seorang relawan yang turut serta dalam pendistribusian bantuan.
Kesimpulan: Pemulihan yang Masih Panjang
Meskipun masa tanggap darurat diperpanjang, tantangan pemulihan di Kabupaten Banjar masih sangat besar. Banjir yang melanda sembilan kecamatan ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, selain bantuan darurat, diperlukan langkah-langkah pemulihan jangka panjang untuk memastikan bahwa bencana serupa dapat diminimalisir di masa depan.





